Minggu, 29 Januari 2012

contoh satuan layanan bimbingan konseling


PRODI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
2011/2012

RENCANA PELAKSANAAN
SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

SATUAN PENDIDIKAN     : SMK YAPERBEL 2 TANJUNG PANDAN
KELAS                                   : siswa kelas XII.
MATA PELAJARAN            : Bimbingan dan Konseling
TAHUN                                  : 2011/2012

A.    Tema/ topic                             menjadi dewasa
B.     Bidang Bimbingan                  pribadi
C.     Jenis Layanan                          layanan informasi
D.    Fungsi Layanan                       pemahaman
E.     Kompetensi                             menjadi dewasa yang kuat
F.      Sub Kompetensi                      menyadari akan pentingnya menjadi dewasa
yang mandiri dan kuat dalam menjalankan  kehidupannya sendiri.
G.    Indicator                                 mengidentifikasi tolok ukur dewasa yang
mandiri dan kuat menurut pandangan masing-masing.
H.    Sasaran                                    siswa kelas XI SMA
I.       Semester                                  Ganjil / 1 (satu)



J.       Tujuan                                     :
·           peserta didik dapat mengetahui akan pengertian dari ‘dewasa’ itu sendiri.
·           peserta didik mampu memahami makna dari kedewasaan.

K.    Uraian Kegiatan                      :
L.     Uraian Kegiatan:
a.       Kegiatan awal
·         Memberikan salam dan menjelaskan tujuan diadakannya layanan ini.
·         Melihat kesiapan siswa dalam menerima layanan.

b.      Kegiatan inti
·         Menjelaskan materi yang telah disiapkan
·         Siswa bergabung dengan kelompok yang sudah dibentuk sebelumnya untuk mendiskusikan tentang mengidentifikasi tolok ukur menjadi dewasa menurut pandangan kelompok mereka masing-masing.

c.       Kegiatan akhir
·         Kesimpulan materi untuk memantapkan pemahaman siswa akan tugas dan tanggung jawab diri.


M.   Metode                                    ceramah, tanya jawab, diskusi
N.    Tempat Penyelenggaraan        ruang kelas
O.    Waktu Penyelenggaraan         1 x 45 menit
P.      Penyelenggara Layanan          guru Bimbingan dan Konseling
Q.    Pihak-pihak yang dilibatkan   guru BK, siswa
R.     Media                                      buku, laptop, LCD dan layar LCD



S.      Penilaian                                 
1.      Penilaian segera     : siswa cukup mengerti tentang materi yang
  diberikan.
2.      jangka pendek       : melihat sosialisasi siswa dalam berinteraksi
  antara siswa dalam 1-2 minggu kedepan.
3.      jangka panjang      : melihat perkembangan berrsosialisasi siswa
  dalam 1-2 bulan kedepan.

T.      Catatan khusus                        :                      
NO
PERTANYAAN
1.
Akan diadakan pertemuan selanjutnya jika masih belum ada perubahan
2.







Yogyakarta,  oktober 2011


Indra Gunadi
   09001113

MENJADI DEWASA

Secara umum, seorang dapat dikatakan dewasa apabila ia telah mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jelek (atau benar salahnya sesuatu). Namun dalam Islam, seorang dewasa adalah yang telah mampu memilih dan memilah serta mengkategorikan mana yang perintah dan mana yang larangan Allah SWT. Adapun salah satu indikator sikap kedewasaan adalah bersikap bijak. Seorang yang memiliki sikap bijaksana tentu mampu mengendalikan dirinya dan ia pun mempunyai arah pandangan hidup yang jelas serta berkomitmen. Begitulah yang dapat saya pahami, walaupun tentunya seorang bijak tidak mutlak seperti itu. Saya rasa ikhwah sekalian lebih memahaminya daripada saya.
Memang tidak mudah untuk menjadi dewasa, ada masa transisi yang panjang, perlu ilmu, ada latihan, dan sebagainya. Maka wajarlah jika seorang akhi mengingatkan kita cara menuju dewasa dengan sedikit perumpamaan (kalimah thayyibah). Ungkapnya, “Ada banyak cara menjadi dewasa, kadang begitu mudah semudah membaca buku dan menemukan kearifan di tiap lembarnya. Bahkan ada yang lebih mudah, seperti bercermin pada setiap kejadian yang terjadi pada orang lain. Tapi tidak jarang, kita harus menempuh jalan yang begitu berat untuk menjadi dewasa dan sadar. Kita mesti melewati sungai fitnah yang deras, kudu membelah rimba cobaan dengan kerja dan sabar, bahkan kita harus penuh luka sebelum akhirnya memetik hikmah dan menjadi dewasa. Ada yang berhasil, namun banyak pula yang gugur di tengah jalan.”
Bagaimana, sudah ada inspirasi dari masukan ini tentang jalan menuju kedewasaan? Ya! Realitanya untuk menjadi dewasa.
1.      Pertama, kita kudu banyak belajar, tentunya terkait dengan segala topik yang mampu mengarahkan kita mencapai kedewasaan. Contohnya topik birrul walidain, di sini kita banyak belajar bahwa mentaati dan menghormati orangtua tentu ada tata caranya pula, sikap merajuk yang sering kita tampakkan pada orangtua ternyata berdampak psikologis pada orangtua, dan sebagainya. Namun perlu saya tekankan bahwa belajar tidak mesti dengan baca buku saja, selagi banyak jalan menuju Roma tentu banyak peluang yang kita bisa manfaatkan sebagai media belajar.
2.      Kedua, bercermin diri, di sini saya bukannya mengajak ikhwah fillah untuk terus menatapi diri di depan cermin tentunya. Tapi bercermin tentang diri kita, tentang apa yang telah kita lakukan, tentang sifat-sifat kita yang harus diperbaiki, dan sebagainya. Serta tentang cinta kita kepada Rabb yang Maha Mencinta. Selanjutnya saya rasa ikhwah lebih paham tentang ini daripada saya.
3.      Ketiga, dengan latihan. Kita tidak cuma perlu latihan kebugaran fisik atau angkat besi untuk menjadi dewasa. Kita juga perlu banyak, banyak, dan lebih banyak waktu untuk berlatih di setiap perubahan (hijarah) diri kita. Ya! Diaantaranya dengan melatih kesabaran jika kita adalah orang yang suka ngambek, atau dengan “memaksa” diri melakukan ibadah jika kita masih suka bermalas-malasan pada yang satu ini, serta masih banyak bentuk latihan lainnya.
Menulis atau membaca materi ini memang begitu mudah, namun dalam penerapannya tentu banyak hal yang harus kita penuhi sebagai penyokong keberhasilannya. Di antara yang paling saya anggap penting adalah komitmen kuat dalam diri kita, yang selanjutnya ditambah dengan kedekatan kita dengan sesama ikhwah dalam jama’ah atau dengan orangtua khususnya, karena mereka adalah orang-orang yang tiada pernah sungkan untuk terus dan terus mengingatkan kita kepada kebaikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar